Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Kenapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Simak Sejarah dan Perjalanan Tradisinya Sejak Zaman Nabi

Admin WGM - Thursday, 05 March 2026 | 07:00 PM

Background
Kenapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Simak Sejarah dan Perjalanan Tradisinya Sejak Zaman Nabi
Salat Tarawih (CNN Indonesia /)

Bulan Ramadan selalu identik dengan pemandangan masjid-masjid yang penuh sesak pada malam hari. Ribuan umat muslim berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih, sebuah ibadah yang hanya hadir satu bulan dalam setahun. Namun, sering kali muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang baru mendalami agama atau bagi generasi muda, mengapa jumlah rakaat salat Tarawih bisa berbeda-beda di setiap tempat?

Ada masjid yang melaksanakan sebelas rakaat, ada pula yang mengerjakan hingga dua puluh tiga rakaat. Perbedaan ini bukanlah sebuah perpecahan, melainkan bukti kekayaan sejarah dan luasnya pemahaman dalam tradisi Islam. Untuk memahaminya, kita perlu menengok kembali ke belakang, ke masa di mana ibadah ini pertama kali dilaksanakan di bawah langit Madinah.

Masa Rasulullah: Antara Kekhusyukan dan Kekhawatiran

Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW melaksanakan salat malam di bulan Ramadan secara berjamaah di masjid hanya dalam beberapa malam saja. Sejarah mencatat bahwa pada malam-malam tersebut, jumlah jemaah terus bertambah karena mereka ingin mengikuti salat sang nabi. Namun, pada malam keempat, Rasulullah justru tidak keluar ke masjid untuk mengimami jemaah.

Alasan beliau sangat menyentuh hati. Rasulullah khawatir jika beliau terus melakukannya secara berjamaah setiap malam, maka ibadah ini akan dianggap sebagai kewajiban yang memberatkan umatnya di kemudian hari. Sejak saat itu, para sahabat menjalankan salat malam tersebut secara mandiri atau dalam kelompok-kelompok kecil di rumah maupun di sudut-sudut masjid. Pada masa itu, belum ada istilah baku mengenai jumlah rakaat, karena esensinya adalah menghidupkan malam dengan doa dan bacaan Al-Quran yang panjang.

Era Umar bin Khattab: Penyatuan Saf dalam Satu Imam

Perubahan besar terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Saat melihat orang-orang salat terpisah-pisah di masjid, Umar memiliki ide visioner untuk menyatukan mereka di bawah satu imam agar terlihat lebih tertib dan megah. Beliau menunjuk Ubay bin Ka'ab sebagai imam tetap untuk memimpin jalannya salat tersebut secara berjamaah.

Pada masa inilah, tradisi dua puluh rakaat mulai mengakar kuat di Madinah. Para sahabat saat itu melaksanakannya dengan bacaan yang sangat panjang, sehingga mereka sering kali bersandar pada tongkat saking lamanya berdiri. Istilah Tarawih sendiri secara bahasa berasal dari kata Tarwihatun yang berarti istirahat. Hal ini dikarenakan setiap selesai empat rakaat, para jemaah akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali.

Perbedaan Rakaat: Sebuah Fleksibilitas Ibadah

Seiring meluasnya wilayah Islam, praktik jumlah rakaat pun mengalami dinamika. Di Makkah, jemaah melakukan tawaf di sela-sela istirahat salat Tarawih. Agar tidak tertinggal oleh kemuliaan penduduk Makkah, penduduk Madinah pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz menambah jumlah rakaat mereka hingga tiga puluh enam rakaat untuk mengimbangi pahala tawaf tersebut.

Di sisi lain, terdapat kelompok yang memegang teguh riwayat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menambah salat malam lebih dari sebelas rakaat, baik di dalam maupun di luar Ramadan. Perbedaan angka ini, mulai dari sebelas, dua puluh tiga, hingga tiga puluh enam, pada dasarnya adalah masalah teknis dalam ibadah sunah. Jika bacaannya panjang, maka rakaatnya cenderung sedikit. Namun jika bacaannya pendek, maka jumlah rakaat ditambah agar durasi ibadah malam tetap terjaga kualitasnya.

Esensi yang Tak Pernah Berubah

Terlepas dari perdebatan angka, esensi dari salat Tarawih adalah Qiyamu Ramadan atau menghidupkan malam-malam bulan suci dengan penuh iman dan pengharapan. Keindahan Tarawih terletak pada semangat kebersamaan umat dalam menghadap Sang Pencipta. Perbedaan jumlah rakaat justru menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi setiap individu dan komunitas untuk beribadah sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan mereka masing-masing.

Perselisihan mengenai jumlah rakaat seharusnya tidak merusak kehangatan silaturahmi di bulan yang penuh berkah ini. Baik sebelas maupun dua puluh tiga rakaat, semuanya memiliki landasan sejarah yang kuat dan niat yang suci. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita menyelesaikannya atau seberapa banyak angka yang kita capai, melainkan seberapa tulus hati kita saat bersujud dalam kesunyian malam Ramadan.