Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Gak Cuma Tarik-tarikan! Ini Alasan Omed-omedan Jadi Tradisi Paling Dinanti Pasca-Nyepi

Admin WGM - Thursday, 19 March 2026 | 09:00 PM

Background
Gak Cuma Tarik-tarikan! Ini Alasan Omed-omedan Jadi Tradisi Paling Dinanti Pasca-Nyepi
Tradisi Omed-omedan di Bali (Liputan6 /)

Tepat sehari setelah keheningan total Nyepi (saat hari Ngembak Geni), suasana di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, berubah drastis menjadi riuh rendah. Tradisi Omed-omedan—yang secara harfiah berarti "tarik-menarik"—dilaksanakan oleh para pemuda-pemudi (Sekaa Teruna Teruni).

Meskipun sering disalahartikan oleh orang awam sebagai "festival ciuman", Omed-omedan memiliki akar sejarah dan fungsi sosial yang jauh lebih dalam sebagai mekanisme pemersatu warga.

1. Asal-Usul: Dari Kesembuhan hingga Kepercayaan Lokal

Tradisi ini diyakini sudah ada sejak abad ke-17. Konon, bermula dari raja Kerajaan Kedaton yang sakit parah namun tak kunjung sembuh. Saat hari raya, pemuda desa bermain tarik-menarik yang sangat gaduh hingga sang raja merasa terganggu. Namun, kegaduhan dan kegembiraan rakyatnya justru membuat sang raja sembuh secara ajaib.

  • Simbol Penolak Bala: Sejak saat itu, warga percaya bahwa jika Omed-omedan tidak dilaksanakan, akan terjadi kemalangan atau konflik di desa tersebut.
  • Katarsis Pasca-Hening: Setelah 24 jam penuh dalam keheningan dan pengendalian diri (Nyepi), Omed-omedan berfungsi sebagai saluran pelepasan energi atau katarsis kolektif yang sehat.

2. Logika Sosiologis: Mempererat Ikatan Pemuda (Sekaa Teruna)

Dalam struktur masyarakat Bali, Banjar adalah unit sosial yang sangat kuat. Omed-omedan berperan sebagai "lem" bagi generasi muda.

  • Solidaritas Kelompok: Peserta dibagi menjadi dua kelompok (laki-laki dan perempuan). Proses saling tarik, peluk, dan siraman air menciptakan keakraban yang instan. Dalam psikologi sosial, aktivitas fisik bersama yang melibatkan tawa dan kejutan dapat menurunkan batasan ego antarindividu.
  • Media Perkenalan: Di masa lalu, ini adalah cara tradisional bagi pemuda dan pemudi antar-kelompok untuk saling mengenal dalam pengawasan ketat tetua adat. Meskipun kini zaman telah modern, esensi mempererat persaudaraan tetap menjadi yang utama.

3. Simbolisme Air: Pembersihan dan Keseimbangan

Air memegang peranan kunci dalam ritual ini. Setiap kali dua peserta bertemu di tengah dan saling tarik, warga lain akan menyiramkan air dengan ember atau selang.

  • Penetralisir Emosi: Air melambangkan pendingin. Jika interaksi fisik mulai memicu rasa canggung atau ketegangan, guyuran air seketika mengubah suasana menjadi tawa.
  • Simbol Kesuburan: Secara agraris, air adalah sumber kehidupan. Omed-omedan juga dianggap sebagai permohonan agar desa selalu dilimpahi keberkahan dan keharmonisan sepanjang tahun yang baru.

4. Transformasi Menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Kini, Omed-omedan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Ia bukan lagi sekadar ritual lokal Sesetan, melainkan identitas kota Denpasar.

  • Ekonomi Kreatif: Festival ini kini dibarengi dengan bazar UMKM lokal, yang secara otomatis menggerakkan ekonomi warga sekitar pasca-libur Nyepi.
  • Ketahanan Budaya: Dengan tetap melestarikan aturan adat (hanya boleh diikuti oleh pemuda yang belum menikah), Sesetan berhasil menjaga tradisi ini tetap murni di tengah gempuran budaya luar.

Omed-omedan adalah bukti bahwa tradisi bisa menjadi alat manajemen sosial yang efektif. Ia mengubah keheningan menjadi kegembiraan, dan ketidakkenalan menjadi persaudaraan. Di balik keriuhan dan siraman air, tersimpan doa dan harapan agar komunitas tetap solid, rukun, dan penuh dengan energi positif dalam menjalani tahun yang baru.