Selasa, 7 April 2026
Walisongo Global Media
Health

Gak Cuma Enak! Ini Alasan Logis Kenapa Kunyah Permen Bisa Selamatkan Telingamu di Pesawat

Admin WGM - Tuesday, 07 April 2026 | 03:36 PM

Background
Gak Cuma Enak! Ini Alasan Logis Kenapa Kunyah Permen Bisa Selamatkan Telingamu di Pesawat
Kunyah permen karet redakan sakit telinga di pesawat (RSKD Dadi /)

Telinga manusia adalah instrumen presisi yang sangat sensitif terhadap perubahan tekanan atmosfer. Di dalam telinga tengah kita terdapat ruang berisi udara yang dibatasi oleh gendang telinga. Secara logika mekanika, agar gendang telinga bisa bergetar dengan bebas (sehingga kita bisa mendengar dengan jelas), tekanan udara di dalam telinga tengah harus sama dengan tekanan udara di luar. Masalah muncul ketika pesawat berubah ketinggian secara drastis.

1. Logika 'Barotrauma': Perang Tekanan di Gendang Telinga

Saat pesawat naik (climb), tekanan udara di kabin menurun. Udara di dalam telinga tengah yang bertekanan lebih tinggi akan mendorong gendang telinga ke arah luar. Sebaliknya, saat pesawat turun (descent), tekanan kabin meningkat dan mendorong gendang telinga ke arah dalam.

Logikanya, jika perbedaan tekanan ini tidak segera disamakan, gendang telinga akan meregang secara tidak alami. Hal ini menyebabkan rasa sakit, sensasi "tuli" sesaat, hingga denging yang mengganggu. Tubuh kita memiliki katup pengaman otomatis untuk mengatasi hal ini, yang dikenal sebagai Saluran Eustachius.

2. Logika Saluran Eustachius: Si Katup Penyeimbang

Saluran Eustachius adalah saluran kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang hidung dan tenggorokan.

Logikanya, saluran ini berfungsi sebagai sistem ventilasi. Dalam keadaan normal, saluran ini tertutup. Namun, ia akan terbuka sedikit setiap kali kita menelan, menguap, atau mengunyah. Saat saluran ini terbuka, udara dapat mengalir masuk atau keluar dari telinga tengah untuk menyamakan tekanan dengan dunia luar. Jika saluran ini "macet" (misalnya karena Anda sedang flu atau alergi), tekanan tidak bisa seimbang, dan itulah saat rasa sakit yang hebat muncul.

3. Mengapa Mengunyah Permen Benar-Benar Membantu?

Mungkin Anda sering melihat pramugari membagikan permen sebelum mendarat. Ini bukan sekadar keramahan, melainkan langkah medis preventif.

Logikanya, proses mengunyah dan menelan memicu otot-otot di sekitar tenggorokan untuk menarik Saluran Eustachius agar terbuka secara aktif dan berulang. Semakin sering Anda menelan (baik itu menelan ludah atau air), semakin sering Saluran Eustachius memberikan kesempatan bagi udara untuk menyeimbangkan tekanan. Inilah sebabnya mengapa permen sangat efektif—ia merangsang produksi air liur yang memaksa Anda untuk terus menelan selama fase kritis penurunan pesawat.

4. Teknik 'Manuver Valsalva' untuk Kasus Darurat

Jika mengunyah permen saja tidak cukup, para pilot dan penyelam sering menggunakan logika Manuver Valsalva.

Logikanya, Anda menutup mulut, memencet hidung hingga rapat, lalu mencoba menghembuskan napas melalui hidung secara perlahan. Tindakan ini meningkatkan tekanan udara di bagian belakang tenggorokan, yang secara paksa mendorong udara masuk ke dalam Saluran Eustachius menuju telinga tengah. Namun, berhati-hatilah; jangan meniup terlalu keras karena bisa merusak gendang telinga. Lakukan secara lembut hingga Anda mendengar bunyi "plop" kecil yang menandakan tekanan sudah seimbang.

Fenomena telinga berdenging adalah pengingat betapa canggihnya sistem adaptasi tubuh manusia. Dengan memahami logika Saluran Eustachius, kita tidak perlu lagi merasa panik saat telinga terasa "meletup" di pesawat.

Di tahun 2026, dengan teknologi kabin yang semakin baik, guncangan tekanan mungkin berkurang, namun biologi kita tetap sama. Jadi, saat Anda terbang dari Pekalongan menuju destinasi impian, jangan lupa siapkan permen favorit di kantong Anda. Jadikan setiap kunyahan sebagai cara Anda bekerja sama dengan anatomi tubuh untuk menjaga kenyamanan pendengaran. Selamat terbang dengan telinga yang lega dan hati yang tenang!