Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Evolusi Ogoh-ogoh: Kisah Perjalanan Bahan Baku dari Tradisional, Plastik, hingga Eco-Friendly

Admin WGM - Thursday, 19 March 2026 | 08:00 PM

Background
Evolusi Ogoh-ogoh: Kisah Perjalanan Bahan Baku dari Tradisional, Plastik, hingga Eco-Friendly
Ogoh-ogoh (Bali Home Immo /)

Ogoh-ogoh, replika raksasa simbol kekuatan negatif (Bhuta Kala), adalah bagian tak terpisahkan dari malam pengerupukan menjelang Nyepi. Namun, di balik kemegahannya, terdapat sejarah evolusi material yang mencerminkan pergulatan antara kepraktisan modern dan kesadaran lingkungan.

Transisi bahan baku Ogoh-ogoh bukan sekadar tren seni, melainkan sebuah revolusi kesadaran kolektif masyarakat Bali dalam menjaga harmoni alam.

1. Era Klasik: Dominasi Bambu dan Kertas (Pre-1990-an)

Pada awalnya, Ogoh-ogoh dibuat menggunakan bahan-bahan yang sepenuhnya diambil dari alam sekitar.

  • Rangka Bambu: Bambu diserut tipis dan dianyam membentuk anatomi tubuh. Teknik ini membutuhkan keahlian tinggi (ngulat) untuk menciptakan volume yang proporsional.
  • Pelapis Kertas: Rangka anyaman kemudian dilapisi dengan kertas bekas atau koran menggunakan lem kanji (aci).
  • Logika Organik: Bahan-bahan ini sangat mudah terbakar saat ritual pembakaran (ngeseng) di akhir acara, dan sisa abunya tidak mencemari tanah.

2. Era Styrofoam: Kepraktisan yang Merusak (1990-an – 2010-an)

Seiring masuknya material modern, styrofoam (gabus putih) menjadi primadona karena menawarkan kemudahan yang menggiurkan bagi para seniman.

  • Mudah Dibentuk: Berbeda dengan bambu yang keras, styrofoam sangat mudah diukir untuk menciptakan detail otot, urat, dan ekspresi wajah yang hiper-realistis.
  • Bobot Ringan: Material ini memungkinkan pembuatan Ogoh-ogoh yang jauh lebih besar namun tetap ringan untuk diarak.
  • Masalah Ekologis: Masalah muncul saat ritual pembakaran. Styrofoam yang terbakar menghasilkan asap hitam pekat yang beracun (dioksin) dan meninggalkan limbah cair yang merusak unsur hara tanah serta mencemari udara.

3. Era Renaisans Hijau: Kembali ke Akar (2015 – Sekarang)

Sadar akan dampak buruk sampah plastik dan styrofoam, muncul gerakan masif dari para seniman muda Bali (seperti komunitas Kedux dan Marmar) untuk melarang penggunaan plastik dalam Ogoh-ogoh.

  • Teknik Anyaman Modern: Seniman kembali menggunakan bambu, namun dengan teknik yang lebih canggih. Bambu dibentuk sedemikian rupa hingga bisa menyamai detail styrofoam.
  • Material Alternatif: Penggunaan kertas semen, serbuk gergaji, kain perca, hingga serat alam (seperti kulit pohon pisang kering atau klobot jagung) mulai digunakan untuk memberikan tekstur kulit yang artistik.
  • Sains Keamanan: Ogoh-ogoh ramah lingkungan kini menggunakan kerangka besi (yang bisa dipakai ulang) atau bambu utuh yang kuat. Keunggulannya, saat dibakar, asapnya kembali menjadi bagian dari siklus karbon alami tanpa zat kimia berbahaya.

Mengapa Kembali ke Alam Itu "Lebih Mahal" secara Nilai?

Kembalinya penggunaan bambu meningkatkan nilai sosiologis pembuatan Ogoh-ogoh:

  1. Gotong Royong: Membuat rangka dari bambu membutuhkan lebih banyak tangan dan waktu dibandingkan mengukir styrofoam. Hal ini memperkuat ikatan sosial antar-pemuda di Banjar.
  2. Ketangkasan Tangan: Proses menganyam bambu (ngulat) adalah pelestarian keterampilan kriya tingkat tinggi yang tidak bisa digantikan oleh mesin atau material instan.
  3. Inovasi Teknis: Seniman ditantang untuk berpikir kreatif menemukan bahan organik yang bisa menghasilkan efek visual tertentu (misalnya menggunakan sisik ikan atau daun kering untuk tekstur kulit raksasa).

Evolusi bahan Ogoh-ogoh membuktikan bahwa kemajuan seni tidak harus mengorbankan alam. Dengan kembali ke bahan organik, masyarakat Bali menunjukkan bahwa kreativitas sejati adalah kreativitas yang menghargai keberlangsungan hidup semesta. Ogoh-ogoh kini bukan lagi sekadar simbol pengusir roh jahat, tetapi juga simbol kemenangan kesadaran lingkungan atas ego kepraktisan manusia.