Selasa, 21 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Bukan Sekadar Paru-Paru Kuat: Inilah Rahasia DNA Sherpa Menaklukkan Puncak Everest

Admin WGM - Wednesday, 15 April 2026 | 09:30 AM

Background
Bukan Sekadar Paru-Paru Kuat: Inilah Rahasia DNA Sherpa Menaklukkan Puncak Everest
Suku Sherpa (Tranquil Kilimanjaro /)

Bagi sebagian besar manusia, berdiri di puncak dunia adalah sebuah perjuangan melawan maut. Di atas ketinggian 8.000 meter—wilayah yang secara akurat dijuluki sebagai "Zona Kematian"—kadar oksigen turun hingga sepertiga dari tekanan di permukaan laut. Di sini, setiap tarikan napas terasa seperti beban, otak mulai melambat, dan jantung dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya. Namun, di tengah kondisi yang mustahil ini, suku Sherpa bergerak dengan kelincahan yang menentang logika medis. Selama puluhan ribu tahun, Pegunungan Himalaya bukan sekadar medan pendakian bagi mereka, melainkan laboratorium evolusi yang membentuk mereka menjadi manusia paling efisien di bumi.

Selama bertahun-tahun, sains kedokteran percaya bahwa cara terbaik bagi tubuh untuk beradaptasi dengan ketinggian adalah dengan memproduksi lebih banyak sel darah merah. Logikanya sederhana: semakin banyak "kendaraan" (sel darah merah), semakin banyak oksigen yang bisa diangkut. Namun, tubuh manusia biasa sering kali salah menghitung. Produksi sel darah merah yang berlebihan justru membuat darah menjadi kental seperti lumpur, memicu risiko stroke, gagal jantung, hingga penumpukan cairan di paru-paru.

Di sinilah letak keajaiban suku Sherpa. Melalui warisan genetik yang konon diturunkan dari manusia purba Denisovan, mereka memiliki "kartu as" bernama gen EPAS1. Berbeda dengan kita, gen ini menjaga darah Sherpa tetap encer. Tubuh mereka tidak panik saat oksigen menipis; mereka tidak menambah jumlah kendaraan, melainkan memastikan jalur lalu lintas di dalam pembuluh darah tetap lancar. Dengan bantuan kadar Nitrat Oksida yang tinggi, pembuluh darah mereka justru melebar, memungkinkan aliran nutrisi tetap konstan ke otot dan otak meskipun tekanan udara mencekik.

Namun, efisiensi Sherpa melampaui sekadar aliran darah. Rahasia terdalam mereka terletak jauh di dalam sel, pada organel kecil bernama mitokondria. Jika tubuh pendaki biasa ibarat mesin besar yang boros bahan bakar, sel-sel Sherpa adalah mesin hybrid yang sangat hemat. Secara cerdas, metabolisme mereka bergeser untuk lebih banyak membakar glukosa daripada lemak. Dalam hukum kimia, membakar glukosa membutuhkan oksigen yang jauh lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah energi yang sama. Hasilnya? Dari setiap molekul oksigen yang langka di udara Himalaya, suku Sherpa mampu mengekstraksi tenaga yang lebih besar dibandingkan manusia manapun.

Kombinasi antara darah yang lancar, pembuluh darah yang fleksibel, dan "pabrik energi" seluler yang sangat hemat inilah yang menciptakan ketangguhan luar biasa tersebut. Mereka tidak mencoba melawan alam dengan kekuatan kasar; mereka beradaptasi dengan efisiensi yang elegan.

Kini, di tahun 2026, sains tidak lagi hanya mengagumi kekuatan mereka untuk tujuan pendakian. Rahasia DNA suku Sherpa kini menjadi kunci bagi dunia medis global untuk memahami bagaimana menolong pasien yang mengalami kritis oksigen di ruang-ruang rumah sakit. Suku Sherpa adalah bukti hidup bahwa evolusi manusia tidak pernah berhenti. Mereka adalah pengingat bahwa di tempat yang paling tidak ramah sekalipun, kehidupan selalu menemukan jalan untuk menang—bukan dengan mendominasi alam, melainkan dengan menyelaraskan diri melalui mekanisme yang paling halus dan presisi.