Senin, 20 April 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Hutan Ternyata Punya "Internet"! Mengenal Wood Wide Web, Cara Pohon Saling Curhat di Bawah Tanah

Admin WGM - Monday, 20 April 2026 | 10:00 AM

Background
Hutan Ternyata Punya "Internet"! Mengenal Wood Wide Web, Cara Pohon Saling Curhat di Bawah Tanah
Komunikasi Pohon (RRI /)

Selama berabad-abad, kita memandang hutan sebagai sekumpulan pohon individu yang bersaing secara sengit untuk mendapatkan sinar matahari dan air. Namun, penelitian botani modern di tahun 2026 telah mengonfirmasi sebuah realitas yang jauh lebih puitis sekaligus teknis: hutan adalah komunitas sosial yang sangat aktif. Di bawah lapisan tanah yang kita injak, terdapat jaringan komunikasi rumit yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai "Wood Wide Web". Melalui jaringan ini, pohon-pohon tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga saling mengirim pesan, berbagi makanan, dan bahkan memperingatkan satu sama lain akan datangnya ancaman.

Inti dari sistem komunikasi ini adalah Mikoriza, sebuah jaringan jamur mikroskopis yang hidup bersimbiosis dengan akar pohon. Jamur ini mengirimkan benang-benang halus yang disebut hifa ke seluruh penjuru hutan, menghubungkan satu sistem akar dengan sistem akar lainnya. Hubungan ini bersifat mutualisme: pohon memberikan gula hasil fotosintesis kepada jamur, dan sebagai imbalannya, jamur menyediakan fosfor serta nitrogen yang diekstraksi dari tanah. Namun, peran mikoriza lebih dari sekadar logistik makanan; mereka bertindak seperti kabel serat optik biologis yang mengirimkan sinyal kimia dan elektrik antar pohon.

Salah satu keajaiban terbesar dari jaringan ini adalah keberadaan "Mother Trees" atau pohon induk. Pohon-pohon tertua dan terbesar di hutan bertindak sebagai hub pusat dalam Wood Wide Web. Melalui koneksi bawah tanah, pohon induk dapat mengenali kerabat mereka dan mengirimkan nutrisi tambahan kepada bibit-bibit muda yang kekurangan cahaya matahari karena tertutup kanopi. Jika sebuah pohon induk sedang sekarat, ia akan mengirimkan sisa cadangan energinya ke jaringan tersebut untuk dimanfaatkan oleh komunitas pohon yang lebih muda, sebuah bentuk "warisan" biologis yang memastikan keberlanjutan ekosistem.

Tak hanya soal nutrisi, jaringan ini juga berfungsi sebagai sistem alarm dini. Jika sebuah pohon diserang oleh serangga atau penyakit, ia akan melepaskan sinyal kimia khusus ke dalam jaringan mikoriza. Sinyal ini memperingatkan pohon-pohon tetangganya untuk segera meningkatkan sistem pertahanan mereka, seperti memproduksi racun atau enzim yang membuat daun mereka tidak enak dimakan sebelum serangan sampai ke mereka. Ini membuktikan bahwa keselamatan sebuah hutan bergantung pada solidaritas kolektif, bukan sekadar kelangsungan hidup individu yang paling kuat.

Namun, keberadaan Wood Wide Web kini terancam oleh aktivitas manusia seperti penggundulan hutan dan penggunaan bahan kimia tanah secara berlebihan yang merusak struktur jamur. Ketika jaringan ini terputus, pohon-pohon menjadi terisolasi dan jauh lebih rentan terhadap stres lingkungan. Memahami bahwa hutan memiliki sistem komunikasi internal mengubah cara kita memandang konservasi; melindungi hutan berarti melindungi seluruh jaringan hubungan yang ada di bawah tanah, bukan sekadar membiarkan pohon-pohon tetap berdiri.

Menyadari bahwa alam memiliki cara berkomunikasi yang begitu canggih memberikan kita perspektif baru tentang kecerdasan tanaman. Hutan mengajarkan kita bahwa keberhasilan hidup jangka panjang sering kali didasarkan pada kerja sama dan saling berbagi. Di balik keheningan pepohonan yang menjulang, terdapat percakapan tanpa suara yang telah berlangsung selama jutaan tahun, mengingatkan kita bahwa kita semua adalah bagian dari jaringan kehidupan yang saling terkait dan rapuh.