Selasa, 12 Mei 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Bukan Perasaan Kamu Saja, Ini Alasan Sains Mengapa HP dan Laptop Sekarang Cepat Rusak!

Admin WGM - Tuesday, 14 April 2026 | 01:30 PM

Background
Bukan Perasaan Kamu Saja, Ini Alasan Sains Mengapa HP dan Laptop Sekarang Cepat Rusak!
Kulkas Zaman Dulu Lebih Awet dibanding Barang Canggih 2026 (Liputan6/)

Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang lampu bohlam yang menyala selama 100 tahun atau mesin cuci peninggalan nenek yang masih berfungsi hingga hari ini. Sementara itu, ponsel pintar yang Anda beli dua tahun lalu mungkin sudah mulai melambat atau baterainya membengkak.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Dalam dunia manufaktur, terdapat strategi yang disebut Planned Obsolescence (Keusangan Terencana). Ini adalah praktik mendesain produk dengan masa pakai yang terbatas agar konsumen merasa perlu membeli versi terbaru dalam jangka waktu tertentu.

1. Keusangan Teknis: Material yang "Pas-pasan"

Zaman dulu, barang dibuat dengan prinsip over-engineering—menggunakan material yang jauh lebih kuat dari yang sebenarnya dibutuhkan. Sekarang, perusahaan menggunakan sains material untuk menghitung presisi batas ketahanan sebuah komponen.

  • Logika Efisiensi: Jika sebuah laptop dirancang untuk relevan secara teknologi selama 5 tahun, perusahaan tidak akan menggunakan engsel yang bisa bertahan 20 tahun. Penggunaan plastik berkualitas rendah atau lem permanen (alih-alih sekrup) membuat perbaikan menjadi sulit dan mahal.
  • Miniaturisasi: Perangkat yang semakin tipis menuntut komponen yang sangat padat. Hal ini membuat panas sulit terbuang, yang secara sains mempercepat kerusakan pada sirkuit internal.

2. Keusangan Fungsional (Baterai dan Lem)

Salah satu contoh paling nyata adalah baterai tanam. Baterai litium-ion secara alami mengalami degradasi kimia setelah jumlah siklus pengisian tertentu.

  • Strategi Integrasi: Dengan merekatkan baterai langsung ke sasis perangkat, perusahaan memastikan bahwa saat baterai melemah, biaya penggantian hampir menyamai harga perangkat baru. Konsumen secara logis akan memilih untuk "tukar tambah" daripada memperbaiki.

3. Keusangan Sistem (Software Obsolescence)

Di era digital 2026, kerusakan fisik bukan lagi satu-satunya cara sebuah barang "mati". Perangkat keras yang masih bagus bisa menjadi tidak berguna karena pembaruan perangkat lunak (software updates).

  • Beban Sistem: Sistem operasi terbaru sering kali membutuhkan daya komputasi yang lebih tinggi. Perangkat lama yang dipaksa menjalankan perangkat lunak ini akan mengalami perlambatan (throttling), membuat pengguna merasa perangkat mereka sudah rusak secara fungsional.

4. Keusangan Psikologis (Style Obsolescence)

Sains pemasaran juga berperan besar. Dengan mengubah desain estetika secara berkala (misalnya jumlah kamera atau warna baru), perusahaan menciptakan perasaan "ketinggalan zaman" pada konsumen, meskipun perangkat lama masih berfungsi dengan sempurna. Ini adalah permainan psikologi untuk memicu konsumerisme.

Dari sudut pandang ekonomi, planned obsolescence menjaga roda industri tetap berputar dan mendorong inovasi cepat. Namun, dari sudut pandang lingkungan, ini menciptakan krisis limbah elektronik (e-waste) yang masif.

Memahami logika ini membantu kita sebagai konsumen untuk lebih kritis. Memilih produk dengan label Right to Repair atau yang menawarkan dukungan pembaruan jangka panjang adalah cara kita melawan siklus "beli-pakai-buang" yang dirancang oleh industri.