Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
Culture

Barus sebagai Kota Tertua di Indonesia yang Menyuplai Bahan Pengawet Mumi bagi Kekaisaran Mesir

Admin WGM - Saturday, 07 March 2026 | 09:03 AM

Background
Barus sebagai Kota Tertua di Indonesia yang Menyuplai Bahan Pengawet Mumi bagi Kekaisaran Mesir
Makam-makan Tua di Barus, Tapanuli Tengah (Aswil's Personal Repository /)

Ribuan tahun sebelum peta dunia modern terbentuk, sebuah kota kecil di pesisir barat Sumatra Utara telah menjadi pusat perhatian peradaban-peradaban besar dunia. Kota itu adalah Barus, yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Salah satu temuan arkeologi paling mengejutkan adalah adanya jejak bahan kimia dari getah pohon asli Barus pada jenazah para bangsawan Mesir Kuno, termasuk Firaun Ramses II. Bagaimana mungkin produk dari hutan tropis Sumatra bisa menyeberangi samudra dan berakhir di dalam piramida Mesir yang gersang?

Kapur Barus sebagai Bahan Vital Mumifikasi

Dalam ritual pengawetan jenazah atau mumifikasi di Mesir Kuno, para pendeta menggunakan berbagai campuran bahan untuk mencegah pembusukan. Salah satu bahan yang paling dicari adalah getah kristal dari pohon Dryobalanops aromatica, yang hanya tumbuh subur di wilayah Barus.

Sains membuktikan bahwa kapur barus memiliki sifat antibakteri dan antijamur yang sangat kuat. Selain memberikan aroma harum yang abadi, zat ini mampu menyerap kelembapan dan membunuh mikroorganisme yang memicu pembusukan daging manusia. Penggunaan kapur barus memastikan mumi tetap utuh dan "awet" selama ribuan tahun, sebuah syarat mutlak dalam kepercayaan Mesir Kuno mengenai kehidupan setelah mati.

Jalur Pelayaran Purba yang Menghubungkan Dua Benua

Kehadiran kapur barus di Mesir adalah bukti nyata adanya jalur perdagangan maritim yang sangat tua, jauh sebelum Jalur Sutra darat mencapai masa kejayaannya. Para pedagang dari Mesir, Fenisia, hingga Yunani Kuno menyebut Barus sebagai wilayah yang penuh dengan emas dan rempah wangi.

Kapal-kapal kuno berangkat dari pesisir Laut Merah, mengarungi Samudra Hindia, dan bersandar di pelabuhan Barus untuk mendapatkan "Emas Hitam" dan "Emas Putih" (kapur barus). Diperkirakan perdagangan ini sudah berlangsung sejak dinasti-dinasti awal Mesir, menjadikannya salah satu jalur diplomasi dagang tertua di dunia yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah.

Barus: Emporium Terpenting di Dunia Kuno

Penyebutan Barus dalam literatur kuno sangatlah masif. Ptolemeus, seorang ahli geografi dari Alexandria, Mesir, menyebutkan nama Barousai dalam petanya pada abad ke-2 Masehi. Kota ini bukan sekadar desa nelayan, melainkan sebuah emporium internasional di mana bahasa Yunani, Sanskerta, Arab, dan Melayu Kuno saling bersahutan di pasar-pasarnya.

Kekayaan alam Barus yang tak tertandingi saat itu membuat harganya setara dengan emas. Getah bening yang mengkristal ini dianggap sebagai barang mewah yang hanya mampu dibeli oleh keluarga kerajaan dan kaum elit untuk ritual keagamaan dan pengobatan kelas atas.

Sejarah Kapur Barus dan hubungannya dengan Mesir Kuno adalah pengingat bahwa nenek moyang kita telah menjadi pemain kunci dalam globalisasi sejak masa purba. Kota Barus di Tapanuli Tengah bukan sekadar titik kecil di peta, melainkan pusat peradaban yang harumnya melintasi batas samudra dan waktu, terjaga abadi dalam balutan kain mumi para raja Mesir.