Aktivis BEM UI Diserang Orang Tak Dikenal di Tebet, Amnesty International Indonesia Mengecam Keras
Azizatul Khifdiyah - Wednesday, 07 October 2026 | 11:15 AM


Berdasarkan laporan media, aktivis mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), Hafidz Hernanda alias Bapis, menjadi korban penyerangan fisik oleh orang tak dikenal di Tebet, Jakarta Selatan. Peristiwa kekerasan yang menimpa Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI ini terjadi pada Minggu jelang tengah malam, 4 Oktober 2026. Bapis ditendang saat mengendarai sepeda motor hingga terjatuh, dipukul, diancam akan dibunuh, serta dirampas tas dan ponsel miliknya hingga mengalami luka-luka.
Amnesty International Indonesia menyampaikan kecaman keras atas insiden penyerangan fisik dan ancaman pembunuhan yang menyasar aktivis mahasiswa tersebut. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menegaskan bahwa aksi kekerasan ini merupakan bentuk teror terbuka terhadap gerakan mahasiswa serta ruang sipil di Indonesia. Pihaknya menilai penyerangan tersebut bukan sekadar motif perampokan biasa, melainkan kejahatan terencana yang dilakukan secara sistematis.
"Kami mengecam dengan keras serangan terhadap Bapis, merampas tas dan ponsel miliknya disertai ancaman untuk membunuhnya, dan setelahnya pelaku kabur. Serangan terhadap Bapis adalah serangan terhadap gerakan mahasiswa!" kata Usman Hamid.
"Tidak pernah boleh ada pembenaran atas kekerasan seperti yang terjadi pada Bapis ini. Negara kita bukanlah negara preman. Dan, negara tidak boleh membiarkan terjadinya serangan teror untuk melemahkan gerakan mahasiswa," tegasnya.
Indikasi aksi terencana diperkuat dengan ditemukannya barang bukti tak lazim di lokasi kejadian yang tertinggal saat pelaku melarikan diri bersama rekan-rekannya. Tas yang ditinggalkan pelaku berisi sarung tangan lateks, lakban, sandal, kain slayer, kacamata, dan peci. Peristiwa penyerangan fisik ini menjadi puncak eskalasi dari rentetan teror psikologis maupun peretasan digital yang menargetkan aktivis mahasiswa UI sejak Januari 2026.
Rangkaian teror tersebut dirancang untuk memicu efek gentar demi membungkam nalar kritis serta mempersempit kebebasan akademik generasi muda. Usman Hamid menegaskan bahwa kasus ini menjadi batu uji krusial bagi kepemimpinan Kapolri yang baru untuk membuktikan komitmen penegakan hukum secara transparan. Aparat kepolisian diminta segera memeriksa seluruh rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian guna mengungkap identitas pelaku beserta dalang utamanya.
"Mengusut tuntas seluruh serangan terhadap aktivis mahasiswa dan warga negara yang kritis bukan sekadar menegakkan hukum, tetapi juga menyelamatkan masa depan kebebasan berpendapat dan berpikir anak-anak muda di negeri ini, yang sejatinya dilindungi oleh konstitusi," pungkasnya.
Hingga saat ini, publik terus menunggu langkah nyata kepolisian dalam mengusut tuntas penyerangan brutal terhadap aktivis mahasiswa di Jakarta Selatan tersebut.
Next News

Buntut Pembatalan Bebas Bersyarat Indra Kenz & Bechi, Kemenkumham Periksa Seluruh Petugas Lapas!
12 hours ago

Harga Minyak Dunia Meroket, Indonesia Bersiap Hadapi Imbas Inflasi dan Beban Subsidi.
12 hours ago

Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Level III Siaga, Warga Dimbau Tak Panik
5 hours ago

Rumah Dinas Perwira TNI Diduga Jadi Markas Judol, 11 Orang Warga Sipil Diamankan
5 hours ago

Rombongan Pemuda Bawa Celurit Nabrak Gerobak Sate di Kedungwuni, Satu Meninggal Dunia
8 hours ago

Geger Belatung di Menu Makan Bergizi Gratis Banyuwangi, SPPG Beri Klarifikasi
a day ago

Kasus Pengeroyokan Usai SKNC 2026 Memanjang, Polisi Tetapkan 9 Tersangka
a day ago

MK Tolak Gugatan Ijazah Gibran, Tim Hukum Dorong Pemakzulan ke DPR
a day ago

Sembunyikan Sabu di Ayam Goreng Krispi, Nenek di Surabaya Gagalkan Penyelundupan Narkoba ke Lapas Porong
2 days ago

Gibran Tanggapi Putusan MK Soal Gugatan Ijazah, Tegaskan Lulus SMA dan Tetap Fokus Bekerja
2 days ago





