Film The Devil Wears Prada 2 Dikritik Warganet China, Nama Karakter Dinilai Bernuansa Rasis
Admin WGM - Friday, 24 April 2026 | 02:30 PM


Film The Devil Wears Prada 2 kembali menjadi sorotan publik global, bukan hanya karena antusiasme terhadap sekuel dari film ikonik tahun 2006, tetapi juga akibat kontroversi yang berkembang di China. Kritik muncul setelah cuplikan film memperlihatkan karakter baru yang dinilai merepresentasikan stereotip negatif terhadap etnis tertentu.
Kontroversi ini berawal dari kemunculan karakter perempuan keturunan China yang diperankan oleh aktris Helen J. Shen. Dalam sejumlah laporan media internasional, nama karakter tersebut—seperti "Jin Chao" atau "Qin Zhou"—memicu perdebatan karena dianggap memiliki kemiripan fonetik dengan istilah bernuansa rasis yang pernah digunakan untuk mengejek komunitas China di Barat.
Istilah yang dimaksud merujuk pada ungkapan yang secara historis digunakan sebagai bentuk ejekan terhadap aksen dan bahasa China, terutama pada masa meningkatnya sentimen anti-imigran di abad ke-19. Kemiripan bunyi ini dianggap tidak sensitif secara budaya dan berpotensi memperkuat stereotip lama yang seharusnya sudah ditinggalkan dalam industri hiburan modern.
Selain nama, karakterisasi tokoh tersebut juga menjadi sorotan. Dalam cuplikan yang beredar, karakter digambarkan sebagai asisten yang cenderung canggung, terlalu ambisius, dan emosional. Beberapa penonton menilai penggambaran ini memperkuat stereotip "model minority" yang kerap dilekatkan pada karakter Asia di film-film Hollywood.
Reaksi warganet di China pun cukup keras. Sejumlah pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap film tersebut sebelum perilisan resminya. Kritik tidak hanya datang dari individu, tetapi juga diperkuat oleh media lokal yang menyoroti sensitivitas isu rasial dalam industri perfilman global.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa kontroversi ini berkembang pesat dalam waktu singkat, terutama karena film tersebut memiliki basis penggemar yang besar di Asia. Bahkan, sebagian warganet menilai bahwa industri film Hollywood seharusnya lebih berhati-hati dalam merepresentasikan karakter lintas budaya, mengingat pasar Asia memiliki kontribusi signifikan terhadap pendapatan global film.
Kritik ini juga membuka kembali diskusi lama mengenai representasi etnis dalam film Hollywood. Meski dalam beberapa tahun terakhir industri hiburan mulai bergerak menuju keberagaman yang lebih inklusif, kasus seperti ini menunjukkan bahwa persoalan sensitivitas budaya masih menjadi tantangan.
Di sisi lain, belum ada pernyataan resmi yang secara spesifik menanggapi tudingan rasisme dari pihak produksi film. Namun, beberapa pihak menilai bahwa penilaian publik sebaiknya menunggu perilisan penuh film untuk memahami konteks karakter secara menyeluruh.
Sebagai informasi, The Devil Wears Prada 2 merupakan sekuel dari film populer yang pertama kali dirilis pada 2006. Film ini kembali dibintangi oleh Meryl Streep, Anne Hathaway, serta Emily Blunt. Cerita berfokus pada dinamika baru dunia media dan fashion yang semakin berkembang di era digital.
Film ini dijadwalkan tayang secara global pada 1 Mei 2026 dan diproduksi oleh 20th Century Studios. Antusiasme tinggi terhadap film ini terlihat dari jumlah penonton trailer yang mencapai ratusan juta dalam waktu singkat. Namun, kontroversi yang muncul berpotensi memengaruhi penerimaan publik di beberapa wilayah, khususnya Asia.
Analisis dan Dampak
Kasus ini menegaskan bahwa sensitivitas budaya menjadi aspek penting dalam produksi film global. Di era digital, respons publik dapat berkembang dengan cepat dan berdampak langsung terhadap citra sebuah karya.
Bagi industri perfilman, kritik ini menjadi pengingat bahwa representasi karakter tidak hanya soal kreativitas, tetapi juga tanggung jawab sosial. Kesalahan kecil dalam penamaan atau penggambaran karakter dapat memicu reaksi luas, terutama jika berkaitan dengan isu identitas dan sejarah diskriminasi.
Kontroversi yang melibatkan The Devil Wears Prada 2 menunjukkan bahwa standar publik terhadap isu keberagaman semakin tinggi. Di tengah ekspektasi besar terhadap sekuel film legendaris ini, perhatian terhadap detail budaya menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Ke depan, industri hiburan dituntut untuk lebih sensitif dan inklusif agar dapat diterima oleh audiens global tanpa memicu polemik serupa.
Next News

Mengenal Pantomim, Seni Ekspresi Tanpa Kata yang Penuh Makna
in an hour

Ghostwriting dalam Hukum dan Etika: Siapa Pemilik Sebenarnya dari Sebuah Karya Tulis?
12 hours ago

Tuduhan Pengkhianat! Simak Sinopsis Film Salt yang Tayang Malam Ini
a day ago

Skandal Pencekalan Bang Si-hyuk: Antara Proses Hukum dan Dugaan Lobi Diplomatik
a day ago

Hidup Sederhana di New York, Kisah Mako Komuro Usai Tanggalkan Gelar Kekaisaran
3 days ago

Bosan Baca yang Itu Saja? Ini 5 Rekomendasi Buku Hebat untuk Bedah Pemikiran Kartini
3 days ago

Bieber dan Eilish Guncang Coachella 2026: Kejutan Besar yang Berujung Kontroversi
4 days ago

Dari Eksperimen Sosial ke Drama Scripted, Begini Perjalanan Reality Show Menguasai Layar Kaca
5 days ago

Bukan Cuma Enak Didengar, Deretan Lagu Klasik Ini Simpan Pesan Rahasia yang Bikin Merinding
5 days ago

Lebih dari Sekadar Tukang Rekam, Ini Peran Vital Produser Musik dalam Membentuk Imej Penyanyi
5 days ago





