Biar Gak Terjungkal, Intip Kecanggihan Holeshot Device Penentu Kemenangan di Tikungan Pertama
Admin WGM - Saturday, 28 February 2026 | 12:32 PM


Jika Anda memperhatikan barisan pembalap di garis start beberapa detik sebelum lampu merah padam, Anda akan melihat pemandangan yang aneh. Motor-motor prototipe yang tadinya tinggi dan gagah tiba-tiba "ambles" atau turun drastis, terutama di bagian belakang, hingga terlihat ceper seperti motor drag. Fenomena ini bukan karena kerusakan suspensi, melainkan aktivasi alat rahasia bernama Holeshot Device. Teknologi yang awalnya dipopulerkan oleh Ducati ini telah menjadi senjata wajib yang mengubah peta persaingan di detik-detik awal balapan, di mana posisi di tikungan pertama sering kali menentukan hasil akhir podium.
Mengapa motor MotoGP butuh menjadi ceper saat start? Masalah utama mesin berkekuatan 300 HP adalah Wheelie (roda depan terangkat). Saat pembalap memutar gas secara ekstrem dari posisi diam, pusat gravitasi motor cenderung berpindah ke belakang dengan sangat cepat. Akibatnya, roda depan akan terangkat ke udara. Ketika roda depan terangkat, tenaga mesin terbuang percuma karena sistem elektronik (Anti-Wheelie) akan memotong tenaga mesin untuk mengembalikan roda ke aspal. Di sinilah Holeshot Device berperan sebagai "penjinak" gravitasi.
Cara kerjanya adalah dengan mengunci suspensi (biasanya bagian belakang, namun kini juga bagian depan) dalam posisi tertekan atau pendek. Dengan menurunkan bodi motor, pusat gravitasi menjadi lebih rendah dan lebih maju ke depan. Secara fisika, posisi ini menciptakan tuas yang lebih sulit bagi roda depan untuk terangkat. Hasilnya? Pembalap bisa memutar gas jauh lebih dalam tanpa takut motor terjungkal ke belakang. Tenaga mesin bisa disalurkan 100% ke roda belakang untuk mendorong motor maju secepat peluru, bukan ke atas.
Teknologi ini sepenuhnya bersifat Mekanis-Hidrolik, bukan elektronik. Hal ini dikarenakan regulasi MotoGP melarang penggunaan suspensi elektronik aktif yang bisa berubah secara otomatis. Pembalap harus mengaktifkannya secara manual melalui tuas atau tombol di area setang saat mereka menuju garis start. Begitu pembalap melakukan pengereman keras di tikungan pertama, sistem pengunci ini akan terlepas secara otomatis, dan suspensi akan kembali ke posisi normal untuk menghadapi tikungan.
[Image showing the cockpit of a MotoGP bike with the manual levers used to activate the holeshot device]
Namun, inovasi tidak berhenti di sana. Teknologi ini berevolusi menjadi Ride Height Device. Jika Holeshot Device hanya dipakai saat start, Ride Height Device bisa digunakan berkali-kali di setiap lap. Saat pembalap keluar dari tikungan menuju lintasan lurus, mereka akan menekan tombol untuk merendahkan bagian belakang motor. Hal ini mengurangi hambatan angin (aerodynamic drag) dan memberikan traksi maksimal saat akselerasi.
Penggunaan alat ini membuktikan bahwa di MotoGP, setiap milimeter ketinggian motor sangatlah berharga. Meskipun terlihat sederhana—membuat motor menjadi ceper—efeknya sangat masif dalam memangkas waktu akselerasi 0-100 km/jam yang kini bisa dicapai hanya dalam waktu sekitar 2,4 detik.
Hingga saat ini, perdebatan mengenai penggunaan alat ini terus berlanjut karena dianggap membuat balapan terlalu teknis. Namun, bagi para insinyur, Holeshot Device adalah mahakarya mekanis yang membuktikan bahwa kecerdasan manusia selalu punya cara untuk menaklukkan hukum alam demi kecepatan tertinggi.
Next News

Gugur dari AFF U-17, Strategi Bertahan Indonesia Disentil Pelatih Vietnam
17 hours ago

Alternatif Mobilitas Hemat BBM yang Kini Dilirik Gen Z
3 days ago

Gianni Infantino Pastikan Iran Tetap Tampil di Piala Dunia 2026
4 days ago

Ikuti Jejak Ronaldo, Lionel Messi Resmi Jadi Pemilik Klub Kasta Kelima Liga Spanyol
4 days ago

Thailand U-17 Tumbang dari Myanmar, Terancam Gagal ke Semifinal Piala AFF U-17 2026
5 days ago

Mariano Peralta Menggila di Lapangan, Lefundes Minta Suporter Borneo FC Kembali ke Stadion
5 days ago

Hasil Liga Champions: Liverpool dan Barcelona Tersingkir, PSG dan Atletico ke Semifinal
6 days ago

Kagumi Borobudur, Shin Tae-yong Beri Sinyal Betah di Indonesia Meski Keluarga Heran
6 days ago

Piala Presiden 2026 Mulai Digodok, PSSI Buka Peluang Undang Klub Luar Negeri
7 days ago

Rekap Final Kejuaraan Asia 2026: China Gagal Dominasi, Korea Selatan Tampil Superior
7 days ago




